Di Negeri Kami; Si Miskin Dilarang Kawin

Harga emas melonjak, melambung, terbang tinggi bagai balon udara
Terlihat, indah namun tak tersentuh.
Bagaimana dengan rupiah?
Ini serambi mekkah bung, rupiah hanya berlaku sebagai alat tukar
Tak bisa dibawa ke meja penghulu sebagai mahar.

Harga sapi juga ikut meroket,
Sampai-sampai jeroan pun jadi barang impor yang kemarin katanya makanan binatang.
Kenapa harus pusing? Bukankah negeri mu dikelilingi lautan?
Nelayan pulang dengan ikan, dari hiu sampai teri medan.
Ini daerah para raja kawan, tanpa sapi maka tak pernah ada resepsi.

Kau akan pulang dengan kendaraan bersama teman dan handai taulan.
Mereka mengantarmu, dengan talam dijunjung sebagai hantaran.
Isinya macam-macam, mulai dari jeruk limau hingga lipstick merah sebagai buah tangan.
Belinya pakai apa Jika tak ada daun merah dalam rekening bank?

Pernahkah kau melihat mesjid megah di kota kami?
Akad nikah beberapa menit setara menginap dua malam di buruj Khalifa.
Wah, jangan tanyakan lagi bulan madu karena madu paling bagus adalah yang paling pahit rasanya.
Sepahit obat malaria yang juga butuh biaya.

Karena itu semua, lantas kau marah hingga memaki?
Tidak teman, aku hanya sedang meratapi
Aku juga hanya sekedar mengingatkan bahwa cinta bukan untuk main-main.
Dan..., si miskin dilarang kawin.


Previous
Next Post »