Catatan Pengingat Diri

Catatan Pengingat Diri
Adakah orang yang datang dalam hidupmu, menetap dan tak pernah pergi? saya yakin tidak. Karena sejatinya kehidupan adalah dimana setiap pertemuan menjadikan perpisahan sebuah keniscayaan yang tak terbantahkan. Siapapun itu, teman, kakak, adik, suami, istri, bahakan ibu dan ayah sekalipun hanya singgah sementara, pemberian Tuhan yang berbatas waktu.

Sebagai pemberian, tentu saja sesuatu yang telah diberikan adalah hak kita, hak milik kita. Namun, karena hakikat pemberiannya memiliki dimensi waktu maka cara terbaik untuk menghilangkan kekecewaan atau meminimalisir rasa kehilangan ketika ia pergi adalah dengan mempercayai bahwa Tuhan tak pernah membiarkan kita sendiri atau jika boleh meminjam bait sebuah lagu “you will never walk alone”.

Merasa sedih bahkan mungkin nelangsa setengah mati saya rasa itu sangat manusia, bahkan Rasulullah pun yang manusia pilihan pernah meneteskan air mata ketika Ibrahim putranya wafat dalam usia kenak-kanak. Namun, berlama-lama meratapi kesedihan bukanlah sesuatu yang bijak dan patut dilakukan. Apapun yang pernah terjadi di masa lalu dia akan tetap menjadi masa lalu. Lagi-lagi jika masih boleh mencatut lirik sebuah lagu “life must go on”.

Sebuah pepatah yang mengatakan bukan perpisahan yang kutangisi, tapi pertemuan yang kusesali sepertinya menggugat sebuah takdir. Jika tak ingin bertemu kenapa harus dilahirkan? Tutup saja pintu, jendela dan seluruh akses masuk siapapun ke hidup mu jika kamu tak siap dengan sebuah kehilangan. Ambillah pelajaran pada setiap kenangan dan jadikan itu sebagai bekal untuk merajut masa depan.


Terakhir, menyesali masa lalu tak akan mengubah apapun dan membanggakan sejarah silam juga tak akan bisa menjadikanmu bahagia. Cara terbaik membahagiankan diri sendiri adalah dengan mensyukuri apa yang telah kita miliki dan mengikhlaskan apa yang telah pergi.
Previous
Next Post »