Tradisi Keluarga Kami

Kami sudah terbiasa dalam hening serta telah lama bercengkerama dalam damai.
Semua setuju, semua sepakat tradisi keluarga kami yang telah turun temurun ini dijaga bersama dikawal bersama. Bahkan para tetangga pun ikut menghormati aturan rumah tangga kami meski mereka tidak ikutan menjalankan tradisi tersebut.

Hari berlalu dan tahun pun berganti, hingga usia bumi bukan lagi bilangan ratusan, namun ribuan. Itu artinya selama itu pula tradisi ini telah kami warisi.
Suatu waktu, kami kedatangan tamu meminta suaka, kami berikan segala yang kami punya dan menjadikannya tetangga setia.

Percayalah, tak pernah sekalipun diantara sanak keluarga kami yang memaksa tetangga tersebut untuk menghadiri acara keluarga apalagi meminta mereka ikut-ikutan melaksanakan tradisi kami. Pun sebaliknya, kami biarkan mereka menjalankan adat keluarga mereka meskipun di tanah kami.

Namun, semakin tua tradisi ini ternyata segelintir anggota keluarga kami mulai lelah atau mungkin juga kalah oleh gaya hidup para tetangga, saudara kami itu mulai tergiur dengan bisik-bisik  tetangga.
Entah apa yang kini bercokol di pikiran saudara kami, sikapnya mulai berubah, meski ia masih tetap mengikuti tradisi ini tetapi pola pikirnya mulai menyimpang. Sekarang, segala ritual keluarga yang diikutinya tak lebih hanya untuk menghormati adat istiadat nenek moyang.

Tanpa sadar, tetangga yang dulu kami terima dengan tangan terbuka, kami berikan tempat tinggal yang layak, mulai menggerogoti kami, tak hanya secara fisik namun juga sampai ke hati dan kerja otak.
Jika sudah seperti ini, maka tradisi keluarga kami akan menghilang perlahan, hingga mungkin suatu saat nanti dilupakan orang.

Dibuang, diinjak-injak dan pada akhirnya menjadi debu, terbang tanpa sedikitpun jejak yang tertinggal. Hmm,,, semoga saja tidak. 

Tak perlu dibaca apalagi dicerna, ini hanya secuil kegalauan anggota kelurga besar kami.
Previous
Next Post »