Tugu Simpang Lima: Simbol Penuh Makna

Kau berdiri megah di tengah kota.
Menjadi saksi sejarah dalam perjalanan panjang dan lelah bangsaku.
sungguh, aku tak pernah tahu sejak kapan kau mematung di situ, dan aku sungguh tak pernah tahu siapa yang telah sudi kiranya menerima kehadiranmu dalam detak jantung kota ini.

Namun, satu hal yang kuketahui pasti, kau telah menjadi nadi dalam denyut peradabannya.
menjadi api penerang pada setiap gelap malamnya dan menjadi tameng pertahanan pada setiap pertempurannya.

Ingin sekali rasanya menguak tabir kesombonganmu, menyingkap tirai keangkuhanmu.
menghapus jejak-jejakmu pada setiap langkah demi langkah dalam membuai kotaku.
kau seolah merayu dan mencumbu, hingga tak seorang pun kuasa menghardikmu.

Tetapi, itu semua tak mampu mempengaruhiku.
Jangan pernah coba untuk membujukku, karena aku muak dengan segala kepalsuanmu.
kau boleh acuh pada keramaian di sekitarmu, silahkan tertawa karena kau pikir kau telah menang.
mereka mungkin bisa kau pecundangi, tetapi tidak dengan diriku.

Aku marah..., tetapi bukan padamu.
aku marah pada bangsaku sendiri yang menerima kedatanganmu dan membiarkan kau ikut ambil bagian dari setiap perjuangan kami.
bagaimana bisa aku diam saja, jika kau tak juga pergi dari sini, dari kota ini.
dari tempat seluruh cintaku bermuara.

Enyahlah bersama senyum culas dan segenap simbolmu yang penuh makna.


Banda Aceh, 05 Sept 2013


Previous
Next Post »