Percaya tak Pecaya, Invisible Hand Sedang Bermain Di Aceh

Percaya tak Pecaya, Invisible Hand Sedang Bermain Di Aceh
Urusan aurat dalam konteks penegakan syari’at Islam memang tak akan habis dibahas dan tidak pernah sepi pemberitaan. Pagi tadi walikota Banda Aceh, Illiza Sa’adudin Djamal menghentikan acara Indonesian Model Hunt yang digelar di Hotel Grand Nanggroe Banda Aceh karena acara tersebut tidak memiliki izin dari walikota dan kapolda serta juga acara fashion show tersebut menampilkan perempuan-perempuan muda tanpa hijab.

Tentu saja hal ini begitu menghebohkan masyarakat. Sejumlah media mengabarkannya berulang-ulang. Media-media sosial pun dibanjiri berbagai tanggapan dan kicauan. Sejumlah sumber menyebutkan apa yang dilakukan walikota sudah sangat tepat dalam rangka pembenahan Banda Aceh menuju Bandar Wisata Islami Nusantara.

Setelah kasus Miss Indonesia yang menghebohkan, disusul penyataan Menteri Dalam Negeri terkait Perda Jilbab di Aceh yang juga tak kalah gaungnya dengan pemberitaan Miss Indonesia, kini Aceh, Negeri Serambi Mekkah ini kembali hampir saja kecolongan lagi. Acara Indonesian Model Hunt tersebut merupakan sebuah program pencarian bakat yang digelar di 34 provinsi di Indoensia, dan tentu saja penyelenggara acaranya bukan orang Aceh sendiri. Setelah ketiga kasus di atas, mulai dari Miss Indonesia rasa Surabaya, Mendagri yang gagal paham tentang Perda hingga Indonesian Model Hunt ini mengindikasikan bahwa banyak sekali pihak-pihak luar yang ingin menjatuhkan ataupun ingin memberikan citra buruk bagi pelaksanaan syari’at Islam di Aceh.

Keberhasilan Ibu Illiza selaku walikota Banda Aceh ini patut diancungi jempol. Bahkan sebelum ini beliau berhasil menumpas Gafatar yang konon sangat sulit dilacak. Saat ini ketika beliau sedang gencar-gencarnya memerangi dan ingin menumpaskan LGBT di bumi Safiatuddin ini, tantangan-tantangan baru kembali diciptakan oleh “invisible hand” diluar sana yang entah siapa.


Previous
Next Post »