Senja Dalam Segelas Kopi

Senja Dalam Segelas Kopi
Kau tahu, senja selalu punya cerita setelah lelah menyusuri hari.
Senandungnya seirama, tanpa keluh meski peluh membanjiri tubuh.
Pernahkah ia marah pada malam yang meraup sepi dan seluruh mimpi?
Tidak..., sama sekali tidak.
Karena bukankah kepergian selalu menyisakan kerinduan?

Begitupun dengan kita, maka akan kutuliskan sajak kenangan pada lembaran kali ini, untukmu.., bersama senja yang sebentar lagi akan temaram.
Sajak yang kudapat dari gua tempatku bertapa di balik bukit itu.
Jangan pernah berpikir bahwa ini semacam puisi cinta, bukan. ini hanya sebatas abjad-abjad sepi yang kebetulan saja menemukan tinta.

Eh, tunggu dulu..., kopi yanag kuseduh belum sempat kucicipi.
Biarkan Kunikmati sesaat pertemuan bibir kami agar goresan ini semakin sempurna.
Kau tahu, gelas itu tak pernah ku cuci, karena kecup terakhirmu masih bersisa.
Masih ingin kuresapi bersama sepi yang kian merajai hati.

Maafkan aku, jika sajak ini kutulis di lembaran usang, karena aku tak pernah ingin yang baru, apapun itu, terutama kamu.
Sejak setelah kepergian mu pada sore yang tak kucatat tanggalnya itu, kopiku kehilangan rasa, hanya pahit yang tersisa.
Tapi tak apa, setidaknya dahulu pernah pula kucicipi manisnya.
Kembali terngiang kata-katamu, “bukankah kesempurnaan kopi dari rasa pahitnya?”
Benar saja, tak ada yang benar-benar kunikmati pada segelas kopi senja ini, selain rindu dan kecupan bibir terakhir pada cawannya yang kelabu.





Previous
Next Post »