Masih Tentang Kopi

Masih Tentang Kopi
Masih tentang kopi kemarin..., yang belum sempat kau cicipi dan belum juga ku habisi.
Warnanya kian pekat menemani waktu yang bergerak perlahan.
Aku juga belum beranjak bersama harap yang terlanjur terpahat di dinding ruang ini.
Langit-langitnya pun melukis mendung yang ku kira akan segera hujan.

Entah sudah berapa puluh atau bahkan berapa ratus senja yang kulewatkan disini.
Tak pernah sekalipun keperdulikan, bahkan tak juga kutandai pada almanak yang mungkin sudah harus berganti.
Biar lah..., biarkan semua masih seperti dahulu.
Bukankah juga telah kukatakan pada lembaran kemarin bahwa aku tak ingin sesuatu yang baru, apapun itu.

Kau tahu sayang..,, angin semakin kencang saja akhir-akhir ini.
Menerbangkan debu-debu di jendela tua yang terpahat namamu.
Ku sibak semua tirai, aku tak ingin ia juga menerbangkan namamu.
Yach, namamu...,, yang sempat ku goreskan sebelum bayangpun pergi di jemput kelam.

Lagi-lagi, bisikan mu menggema “bukankah kesempurnaan kopi dari rasa pahit dan manisnya?”
Meski manis telah pernah ku candui, namun mungkinkah rindu mampu menghilangkan pahit itu sayang?
Tetap, kutunggu kamu dibawah senja dengan segelas kopi yang telah kuseduh untukmu, yang belum sempat kau cicipi dan juga belum siap kuhabisi.


Previous
Next Post »