Kopi Lagi...

Lembaran kemarin pasti belum kau baca, karena memang tak pernah ku kirim.
Biarkan saja bertebaran disini, hingga nanti mungkin kau kembali.
Hari ini ku ingin menulis lagi, tentang mu, tentang kita dan tentang segelas kopi yang tak sempat kau cicipi dan tentu saja tak akan pernah kuhabisi.

Aku masih terpana dalam ruang remang-remang ini.
Sama seperti saat kau pergi, listrik tetap enggan singgah di kampungku.
Aku ingin marah pada pemerintah, tetapi aku ingat kata pepatah, “daripada mengutuk kegelapan bukankah lebih baik menyalakan lilin penerang?”
Maka, menyendirilah aku disini bersama lilin yang sedang mematikan dirinya sendiri demi agar aku bahagia dalam cahaya.

Selintas, aku mematut diri di cermin retak yang renta dimakan usia.
Cermin yang dulu sering kali kau gunakan untuk menatap wajahmu yang dilukis Tuhan ketika sedang tersenyum.
Adakah aku juga seperti lilin? Menerangi dunia dan bersedia pergi mengubur diri.
Tapi tidak, aku tak pernah menerangi siapapun, bagaimana bisa aku menyamakan diri dengan lilin yang begitu bersahaja?

Pada pena dan tinta yang bergerak kali ini, tolong kau bisikkan pada angin, berapa lama kah lagi aku harus menunggu disini bersama segelas kopi yang kuseduh untukmu tetapi belum sempat kau cicipi dan tetap saja tak ingin kuhabisi.


Previous
Next Post »