Do'aku Adalah Kamu

Kau belum menjadi milikku ketika bibir ini melantunkan do’a-do’a terindah atas namamu.
Kau juga belum menjadi miliku ketika hati ini bergelayut begitu banyak rindu yang tertulis dengan namamu.
Aku pun belum menjadi milikmu ketika namaku kau sebut sebagai bidadari syurgamu.
Aku dan kamu belum bersama ketika tirai itu tersingkap dari pandangan mata.

Telah begitu banyak waktu yang coba kita urai atas nama cinta yang belum terucap.
Dan begitu panjang hari yang telah kita lewati dalam rindu yang belum menemukan tempat untuk berlabuh.
Juga, telah begitu lama penantian bertahan dalam sengatan perasaan mendamba untuk bersama.

Masa itu, senyummu bagai irama shubuh yang membangkitkan semangatku
Saat itu, sapamu menjadi kalimat hangat pengganti selimut dalam dinginnya malamku
Ketika itu, semua tentangmu laksana pelangi yang menyihir dan mengutukku menjadi batu abadi.

Aku mulai lupa, bahwa pelangi hadir tak pernah lama.
Aku seolah terhipnotis oleh pesona yang kau tawarkan melalui lantunan ayat-ayat suci.
Aku begitu menikmati...
Menikmati setiap desah nafasmu yang melafadzkan nun dan mim dengan sempurna.
Menikmati derai tawamu yang sebentar lagi akan ku miliki.

Tuhan memang selalu mengabulkan setiap do’a yang diucap hamba-Nya dengan sungguh-sungguh.
Do’a yang dilantunkan dengan harapan yang begitu menggebu.
Dan do’aku adalah kamu.
Do’aku adalah kamu.
Do’aku adalah kamu.


Kini ketika mataku terbuka, aku tak lagi menikmati pelangi itu, karena do’aku adalah kamu, bahkan aku lupa mendo’akan diriku sendiri.
Previous
Next Post »