Dawai Rindu Di Batas Kota

Siang sudah akan berakhir ketika kudapati diriku tak juga bergerak dalam ruangan yang hanya 4x4 meter persegi ini. sedari tadi aku hanya termangu sendiri disini. Menatap lembaran-lembaran kertas yang berserakan. Pikiranku melayang menembus batas dunia dengan beberapa samudera.

***
Semilir angin senja masih sejuk ku rasakan meski matahari telah tenggelam 30 menit yang lalu. “sendiri saja?” sapamu yang entah sejak kapan berdiri di sisiku. Aku menoleh, melihatmu memegang sajadah biru tua. “baru selesai shalat Maghrib?” kau menggangguk tanpa suara dan menghempaskan tubuhmu di sampingku.

Saat itu, hanya ada kita berdua duduk di bangku panjang di bawah pohon asam belanda tua yang ku prediksikan mungkin umurnya telah ratusan tahun atau mungkin ribuan tahun, ntah lah.

“aku sengaja menunggumu di sini”. Ucapku pelan. Sembari menunggu pertanyaan lanjutan darimu, sekilas kulirik wajahmu yang tetap diam. Kulanjutkan kata-kataku. “aku akan pergi besok sore”. Mendengar itu pun kau tetap diam. Wajahmu tenang berbeda dengan hatiku yang kian bergemuruh.
Sejurus kemudian, “aku sudah menduga”, ucapmu.
“apa yang kau duga?”
Dengan suara berat namun tegas, “aku tahu diri Kayla. Aku bukan siapa-siapa dibanding dirimu. Pergilah, karena meninggalkanku adalah yang terbaik. Kejar mimpimu!”

***
10 tahun berlalu. Segala apa yang kuinginkan telah kudapatkan. Kini, aku seorang dosen sekaligus penulis. Namaku tak jarang menghias lembaran depan media-media, terutama jika karyaku menjadi best seller nasional.

Kesibukan dan kepadatan aktivitasku setiap harinya membuatku lupa. Hingga Siang ini, aku seperti de javu. Merasakan kehadiranmu di kota ini. sekilas memang, tapi cukup membuatku seperti tak berpijak di bumi. Ada apa? Apa yang membuatmu datang ke kota ini? bukankah dulunya kamu pernah bercerita bahwa kota ini menyimpan begitu banyak kenangan pahit yang tak pernah ingin kau kenang?

Bersambung...


Previous
Next Post »