Tahun Kesebelas Sejak aku Menerima Takdir Ini

Jika ada yang bertanya apa makna Tsunami bagi ku? Maka akan ku ceritakan bahwa Bersamanya (tsunami) seseorang pergi, yang tak bisa kutangisi. Terlukakah aku? Tidak. Karena tak pernah ada senyum bahagia tercipta antara kami. Tak pernah ada tawa suka cita yang hadir di dalam komunikasi bahasa kami. Bahkan, ikatan yang terjalin karena takdir ini baru bisa aku terima sebulan sebelum kepergiannya.

Lalu, salahkah aku jika ku katakan aku tidak terluka dan tak berderai airmata? Bagaimana bisa aku meratap kehilangan jika sebenarnya aku tak pernah merasa memiliki? Aku adalah titipan Tuhan untuknya yang ia rawat dan jaga melalui tangan dan hati yang lain.

Dia memang telah pergi 11 tahun dari dunia ini, tetapi bagi duniaku sejatinya ia telah pergi 27 tahun lalu. Ketika mata ini terbuka bukan wajahnya yang menawarkan senyum. Ketika lidah ini berbicara bukan ia yang kusapa dengan segenap harap dan ketika kaki ini ingin melangkah bukan ia yang menuntun dan menunjukkan jalan.

Perlahan, saat aku mulai menyadari meski bukan darinya aku belajar segalanya tetapi karenanya aku ada. Ternyata Sang Maha Pencipta berkehendak lain. Di detik-detik aku mulai berdamai dengan takdir, maka ternyata itu adalah detik pertama sekaligus detik terakhir aku merasakan kehadirannya.

Sekilas dan hanya sebentar. Hingga hari ini, tepat sebelas tahun telah berlalu sejak kepergiannya, airmata ini tetap tak mampu ku teteskan meski hanya setetes saja. Tetapi satu hal yang pasti namanya tak pernah luput dalam do’a-do’a di setiap sujud panjangku. Aku mencintainya dalam rindu yang tak pernah mampu kulisankan. Dan aku merindukannya karena cinta yang tak sempat aku ungkapkan.

Semoga kelak Allah mempertemukan kita di Jannah-Nya...

26 desember 2015
tahun ke-11 sejak aku menerimamu...
maafkan aku
putrimu.



Previous
Next Post »