Putra Mahkota yang Kehilangan Tahta (2)


Koeta Radja, 1593

   “Persiapan khanduri sudah hampir memadai segalanya teungku”, lapor juru masak meuligoe pada Ulee Balang. “baiklah, lakukan tugasmu dengan sempurna, aku ingin semuanya telah sempurna sebelum baginda kembali ke istana.”

Atribut khanduri sudah mulai dipasang di sekeliling Meuligoe. Rakyat juga sudah mulai berbondong-bondong menuju meuligoe. Ada yang ingin membantu dan juga ada yang hanya ingin sekedar melihat-lihat saja. Mereka sangat paham, ini adalah pesta besar. khanduri yang sudah sejak lama sangat diinginkan Sulthan.

Menjelang usia senjanya Sulthan sangat bahagia dengan kelahiran seorang cucu laki-laki. Sebelum kelahirannya pun Sulthan selalu berdo’a dalam sujud-sujudnya pada Sang Pencipta agar Allah berkenan memberinya seorang cucu laki-laki yang kelak dapat membanggakannya sebagai kakek.

Darul Kamal, 1593

“Wahai Pocut Sulthan penguasa Darul Kamal, izinkan aku membawa serta cucu kita ke Koeta Radja karena aku telah menyiapkan khanduri besar untuk penyambutannya.” Ucap Sulthan Abdul Djalil kepada Sulthan Darul Kamal.

“Maaf Polem Sulthan Koeta Radja, kami pun disini telah mempersiapkan segalanya untuk khanduri hari ketujuh cucu kita.” Jawab Sulthan Darul Kamal. Kemudian Sulthan Darul Kamal melanjutkan, “tetaplah disini sampai hari ketujuh Polem, kita laksanakan khanduri disini bersama-sama.”

Raut kekecewaan terpancar dari wajah Sulthan Abdul Djalil. Namun, ia bukanlah orang yang suka memaksakan kehendaknya terlebih kepada besannya sendiri. Maka dengan berbesar hati ia berkata, “baiklah Pocut. Aku akan tetap disini sampai hari ketujuh, dan kemudian setelah acara disini selesai izinkan aku membawa cucu kita ke Koeta Radja. Aku akan mengirimkan seorang uutusan untuk mengabarkan kesana bahwa khanduri disana diundur saja pada hari ke-14 nanti.”

Kedua Sulthan tersebut tersenyum sambil berpelukan. Raut bahagia terpancar dari wajah keduanya. Kini, mereka telah mempunyai seorang cucu laki-laki yang sangat rupawan. “Ini adalah anugerah terindah dari Allah bagi kedua kesulthanan kita ini polem, ucap Sulthan Darul Kamal.”

Koeta Radja, 1593

Ulee Balang memanggil semua pegawai Meuligoe. “Wahai rakan-rakan sekalian, telah sampai kabar kepadaku dari seseorang yang diutus Sulthan Abdul Djalil, bahwa beliau menginginkan khanduri disini diundur pelaksanaannya. Oleh karena itu, waktu kita untuk mempersiapkan khanduri ini jadi lebih banyak. Aku berharap segalanya bisa lebih sempurna seperti yang kita harapkan bersama.”

“Insya Allah Teungku”, jawab mereka hampir bersamaan.

Darul Kamal, 1593

Khanduri besar pun digelar. Senyum bahagia tak henti-hentinya terpancar dari wajah orang-orang yang hadir di khanduri. Seluruh rakyat Darul Kamal diundang tak ada yang tertinggal seorang pun. Ini hajat besar Sang Sulthan, semua rakyat datang.

“kini waktunya kau umumkan nama putra kita dinda”, bisik Sulthan Muda Mansyur Syah kepada istrinya Putri Raja Indra Bangsa. “aku tahu kau sudah tak sabar sejak tujuh hari yang lalu kanda”, ucap sang Putri sambil tersenyum.

***

“Hadirin sekalian rakyat Darul Kamal yang saya muliakan. Hari ini dan sejak tujuh hari yang lalu aku sangat berbahagia. Allah telah memberiku seorang cucu laki-laki. Aku ingin mengucapkan terimakasih untuk do’a kalian semua. Pada hari ini juga aku akan mengumumkan nama yang telah dipilihkan oleh putriku untuk anaknya. Putriku semalam memberi tahu aku bahwa nama ini telah lama sekali dia pikirkan. Bahkan ia belum memberi tahukan kepada siapapun nama ini kecuali kepadaku ayahnya dan kakek dari anaknya. Nama cucuku tercinta adalah......”

Bersambung...

Previous
Next Post »