Membenci Sekadarnya Mencintai Sewajarnya

Benci, seperti hal nya cinta adalah masalah perasaan. Setiap cinta atau benci biasanya tersulut karena ada penyebabnya. Namun, meski demikian tak semua suka/ cinta dan tak semua benci punya alasan. Cukup aneh memang, tetapi itulah rasa. Terkadang kita tak harus punya sebab dan tak wajib memikirkan akibat untuk sebuah benci dan cinta membuncah dalam dada.

Pernah suatu ketika mungkin kita sangat menyukai sesuatu. Namun, sewaktu ditanya mengapa kita menyukai itu? Tak ada satu jawabanpun yang mampu kita berikan. Pun dengan benci. Mungkin suatu ketika kita pernah sangat membenci, baik itu terhadap sesuatu maupun seseorang. Tetapi, disaat kita tersadar, kita tak punya dasar apapun untuk membenci.

Rasul kita yang Mulia telah berpesan “Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya. Bisa jadi orang yang sekarang kamu cintai suatu hari nanti harus kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci sekadarnya, bisa jadi di satu hari nanti dia menjadi orang yang harus kamu cintai.”

Benci dan cinta adalah urusan hati. Jika berlebihan dalam mengelola keduanya hanya akan merusak hati dan pikiran. Begitu banyak waktu yang akan terbuang percuma hanya untuk urusan cinta dan benci jika tidak dibarengi dengan akal sehat dan iman yang kuat.

Betapa banyak orang yang membunuh dalam cinta hanya karena diakhir dia yang tercinta tak sesuai impian. Pun sebaliknya, ada banyak orang yang meluruhkan gengsi setengah mati setelah menyadari kekeliruan bahwa ternyata seseorang yang pernah dibenci justru hadir sebagai penyelamat harapan.

Jadi, membencilah sekadarnya dan mencintai sewajarnya karena Imam Hasan Al-Bashri pernah mengingatkan bahwa cinta dan benci yang berlebihan hanya akan berujung pada kebinasaan.
Previous
Next Post »