Astrie Ivo Keliru Kutip Hadits

Astrie Ivo Keliru Kutip Hadits
Bukti Cintaku Pada-Mu: Tatkala Jilbab Bukan Penjara, adalah sebuah judul buku karya seorang artis senior Astrie Ivo.  Buku ini menceritakan seluruh perjuangan sang artis untuk berjilbab. Pengalaman hidupnya hingga proses berhijabnya Astrie Ivo tertuang dalam buku setebal 120 halaman ini.

Sebenarnya ini bukanlah buku baru. Buku ini diterbitkan pada tahun 2008 oleh penerbit Mizania. Sekilas membaca judul dan beberapa komentator oleh tokoh-tokoh ternama Indonesia membuat saya tertarik untuk juga ikut membaca buku ini.

Seingat saya, pertama sekali saya melihat buku ini di rumah seorang teman. Waktu itu, karena tertarik dengan judul dan sang artis penulis buku ini, saya langsung meminjam buku tersebut. Kejadian itu terjadi sekitar awal tahun 2009. Namun, setelah saya membaca habis buku ini saya merasa ada sesuatu yang mengganjal di hati saya.

Saat itu, saya ingin sekali berkomunikasi langsung dengan sang penulis. Namun, tentu saja itu adalah perkara yang tidak mungkin terjadi. Oleh karenanya, keganjalan tersebut masih saya simpan samapai hari ini.

Pada Bab 2 yang diberi judul “Resah” Astrie Ivo memulai tulisannya dengan mengutip sebuah hadits “kalaulah aku memerintahkan seseroang untuk sujud kepada selain Allah, niscaya aku akan memerintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya. Demi Allah, seorang istri tidak boleh menunaikan hak Tuhannya, sehingga dia menunaikan hak suaminya”. (HR. Ibnu Majah).

Kemudian, isi dari bab kedua ini adalah kisah bagaimana Astrie Ivo merasa dilema karena sang suami melarangnya untuk berjilbab. Ini yang sangat menggajal hati saya. Memang, kewajiban seorang istri adalah taat dan patuh pada suami, tetapi ketaatan dan kepatuhan itu wajib dilakukan selama suami berada dalam ketaatannya kepada Allah.

Pada bab 2 halaman 29 ini, Astrie Ivo seolah lupa atau memang tidak tahu bahwa ada hadits Rasulullah saw yang berbunyi: “Tidak boleh taat (kepada makhluk) dalam bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya taat (kepada makhluk) itu hanyalah dalam perkara kebaikan.” (HR Bukhari nomor 7257 dan Muslim 1840).

Selanjutnya pada hadits lainnya Rasulullah saw menegaskan “Wajib bagi seseorang untuk mendengar dan taat dalam apa yang ia sukai dan benci, kecuali ia diperintah berbuat maksiat. Maka bila ia diperintah berbuat maksiat, ia tidak boleh mendengar dan taat.” (HR. Al-Bukhari no. 2955 dan Muslim no. 1839).

Kedua hadits diatas sudah cukup jelas menerangkan bentuk ketaatan seperti apa yang harus dipersembahkan seorang  istri kepada suaminya. Hadits yang dikutip oleh Astrie Ivo tentunya juga tidak salah, hanya saja Astrie Ivo salah menempatkan perkara “taat” kepada suami tersebut. Berikut isi lengkap dari hadits yang telah dikutip Astrie Ivo; “Dari ‘Abdillah bin Abu Aufa, ia berkata: Tatkala Mu’adz tiba dari Syam, sujudlah ia kepad Nabi saw, lalu beliau bertanya : “Apakah ini, hai Mu’adz?” Mu’adz menjawab “ Aku telah datang ke Syam, kemudian kujumpai mereka bersujud kepada uskup-uskup dan panglima-panglima mereka, lalu aku ragu-ragu dalam hatiku untuk berbuat seperti itu terhadap engkau,.” Kemudian Rasulullah saw bersabda “Janganlah engkau lakukan itu, karena sesungguhnya seandainya aku (boleh) menyuruh seseorang sujud kepada selain Allah, tentu akan aku suruh perempuan sujud kepada suaminya. Demi Dzat yang diri Muhammad dalam kekuasaan-Nya, tidaklah seorang perempuan menunaikan hak Tuhannya, sehingga ia menunaikan hak suaminya dan seandainya suaminya menghendaki dirinya, sedang ia diatas kendaraan, maka tidak boleh ia menolaknya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Hadits ini adalah ancaman atau bentuk perintah ketaatan kepada suami dalam perkara “ranjang”. Seorang istri tidak boleh menolak “permintaan” suami meskipun sedang diatas kendaraan/ dalam perjalanan sekalipun. “Permintaan ranjang” lah yang dimaksudkan hak dalam hadits tersebut.


Itulah sesuatu yang menggajal hati saya setelah membaca buku karya Astrie Ivo. Jika dibaca oleh mereka ynag sudah paham tentang hal ini, tidak akan meresahkan. Akan berbeda, jika buku ini dibaca oleh mereka yang pemahamannya terhadap Islam masih kurang, tentu mereka akan menerima mentah-mentah pernyataan dari sang artis ini dan hal ini kemudian dapat dijadikan alasan atau dalil untuk bermaksiat kepada Allah. Na’udzubillahi min dzalik...

Jilbab/berhijab adalah perintah wajib dari Allah swt. yang termaktub dalam Al-Qur'an Surat An-Nur ayat 31 dan surat Al-Ahzab ayat 59 yang ditujukan kepada semua perempuan muslim (muslimah) kecuali bagi mereka yang belum baligh dan yang mengalami gangguan jiwa. perintah wajib ini harus dilaksanakan meskipun ditentang oleh siapapun bahkan oleh orang tua dan suami sekalipun. melanggarnya adalah bentuk kemaksiatan kepada Allah swt.
Previous
Next Post »