Penantian Senja

Penantian Senja
Langit Jingga menjadi pertanda bahwa malam kan segera menyapa.
Lalu lalang manusia para pemotret berburu sunset
Gurauan kawanan burung kembali ke sangkar
Punya cerita sendiri disetiap episode senja

Kau boleh berbicara apa saja...,
Kau boleh bercerita segalanya.
Namun, kegaduhan itu semua tetap menyisakan sunyi
Hingga langit petang berubah kelam

Mentari telah kembali ke peraduannya
Menyapa para bidadari dan memerintah bulan untuk bersemayam di langit malam
Jika, itu semua masih saja menyisakan sepi yang tak bertepi
Maka, Sang Diraja alam bertitah pada bintang untuk bersinar terang

Lamunan panjang tetap saja belum mampu membuat senyum riang para dedayang
Berlikunya jalan bukan alasan berhenti membual harapan
hingga kemudian, Angin membawa do’a-do’a rindu yang membisu...
Untukmu, yang entah siapa dan dimana?
Semoga..., hatimu terjaga dalam cinta-Nya.
Sampai waktu mempertemukan kita untuk melintasi setiap helai detik bersama
Menikmati air mata sang pencinta dan menangisi wajah pelukis tawa.

Banda Aceh, 02 Agustus 2015.
Previous
Next Post »

6 comments

Write comments
Ahmad Saleh
AUTHOR
August 2, 2015 at 10:33 AM delete

Menyedihkan puisinya :(

Reply
avatar
August 2, 2015 at 6:58 PM delete

hahaha...,, koq menyedihkan bang? :) @@,

Reply
avatar
Ahmad Saleh
AUTHOR
August 3, 2015 at 3:41 AM delete

Puisi mewakili suasana hati penulisnya.. ya kan?

Reply
avatar
August 3, 2015 at 7:41 AM delete

HaHAha..,, bek lah bongkar rahasia bang... :p

Reply
avatar
August 3, 2015 at 7:43 AM delete

HaHAha..,, bek lah bongkar rahasia bang... :p

Reply
avatar
Ahmad Saleh
AUTHOR
August 3, 2015 at 1:58 PM delete

Yaa tanpa ada suasana hati tak mungkin sebuh puisi bisa tercipta :D

Reply
avatar