Pahitnya Penolakan Cleopatra

Katamu profesiku pantas dibanggakan,
Kata mereka akulah kaum intelektual
Kepintaran menjadi modal dan kekayaan menjadi label
Stigma integritas yang tiada tara melekat dalam raga beserta sederetan akronim yang terkadang belum mampu aku pertanggung jawabkan.

Penghormatan dan penghargaan menjadi ritme indah dalam melalui hari
Setiap episode duka, cita dan tawa pun berlomba melintasi waktuku
Pahitnya penolakan Cleopatra pada Julius Kaisar telah pun kurasakan
Sakitnya Mustafa Kamal Pasha ketika gema Takbir tak mampu memenangkannya akibat ketamakan terhadap duniapun telah pula ikut bersemayam dalam raga.
Lalu apalagi? Bahkan, kegemilangan Harun Ar-Rasyid bersama Baitul Hikmahnya masih kentara dalam jiwa.
Pun juga, kesyahduan al-Fatih mengambil alih Istanbul masih gegap gempita ku rasa.

Begitulah, setiap durasi waktu yang kulewati hingga saat ini
Tak mampu terbayar hanya dengan senyum dibawah tatapan culas sang penguasa
Harta berlimpah, wanita terindah dan tahta termegah sekalipun bukan tujuan nyata
Munafik, jika itu terucap di zaman penuh kamuflase ini.
Tapi, tidakkah kau sadari, bahwa aku berjuang bukan untuk itu semua
Bukan hanya untuk simbol semata

Mungkin, kau tak kan pernah tahu, ketika reruntuhan tembok berlin bahkan tak mampu menyatukan jiwa dan ragaku.
Kau juga tak ada, ketika Hagya Sophia menyandingkan Salib dan Kalam Ilahi
Tapi...,,, aku masih saja belum mampu menyandingkan jiwa dan ragaku sendiri.
Pesawat saja sanggup meruntuhkan menara kembar hanya dalam beberapa detik
Aku tetap tak mampu meluruhkan ego-ku bahkan seumur hidup
Baiklah...,, jika memang jalan kita berbeda

Biarkan aku seperti ini, menyendiri layaknya Rabi’ah Adawiyah yang tak butuh suami.

Banda Aceh, 04 Agustus 2015
Previous
Next Post »