Ikatan Cinta Kita

Ikatan Cinta Kita
Kau hadir bersama bahagia yang tak terperi berharap bagai ombak yang tak akan pecah walau sampai ke tepi
Memberi warna lebih dari pelangi yang telah di adopsi para laknat LGBT
Kau nyata adanya bukan bayangan semu fatamorgana di batas cakrawala
Kau adalah mimpi yang ketika ku terbangun masih konkret berada di sisi

Hidup bersama mu mengajariku bahwa keindahan itu adalah realita
Kau juga membimbingku untuk bermimpi dan kita wujudkan bersama ketika pagi menyapa.
Tidak ada kebahagiaan seutuhnya kata mereka, karena hidup adalah dua sisi mata uang yang keduanya harus kita jalani.
Tidak akan ada pelangi bila hujan tak berhenti dan matahari tak menampakkan diri
Itu benar, memang harus kuakui jalan yang kita tempuh tidak selamanya mulus bagaikan sutra Ratu Persia.
Tanjakan terjal, turunan curam, dan berlikunya jalan telah kita lalui yang tak jarang ketika sampai di persimpangan kita harus berhenti sejenak.
Beristirahat sambil kembali berdiskusi untuk kemudian menentukan pilihan jalan mana yang kan kita tempuh.

Mengambil keputusan adalah perkara tersulit sayang, aku tahu itu
Bahkan lebih sulit dari Hakim ketika menentukan hukuman apa yang pantas bagi si pencuri berdasi yang hobinya lobi sana sini.
Kau selalu memberiku kesempatan untuk menentukan, meski terkadang pilihanku keliru hingga kita harus kembali ke persimpangan dan mengambil jalur lainnya.

Sedikitpun kau tak pernah marah ataupun murka ketika kesalahan yang ku lakukan menzalimimu tanpa kusadari atau bahkan terkadang memang ku sengaja
Kesabaranmu, keikhlasanmu menggetarkan seluruh aliran darahku dan memaksa jantung berpacu lebih dari biasanya.
Bahkan lidahku semakin kelu hingga tak mampu kuucapkan sepatah kata pun
Kala Kau diam saja, saat seluruh makian pedas nan tajam bak samurai pahlawan negeri Sakura ku hujamkan ke arahmu
Kau  tak menghindar dan tak juga beranjak pergi
Kelembutan yang kau tawarkan disertai senyuman penuh cinta selalu menghiasi sikap dan wajahmu bahkan ketika amarah ku telah dikendalikan setan Laknatullah
Sungguh sayang, Kesetiaanmu mendewasakanku, hingga kini aku mampu mengukir bahagia di tepi pantai dan aku tak pernah takut ombak akan menghapusnya, karena aku yakin tsunami sekalipun tak kan melerai ikatan cinta kita.


Ujung Sumatera, 22 Agustus 2015
Previous
Next Post »