Cinta Segelas Kopi

Cinta Segelas Kopi
Kulihat senyummu di batas cakrawala lewat jendela kaca yang telah berdebu.
Bayanganmu samar, hanya mampu ku raba dalam ruang gelap tanpa cahaya
Dimana lentera? Ingin kunyalakan agar terlihat dirimu tanpa penghalang, tanpa perintang.
Sayangnya, lenteraku kehabisan minyak, keuanganku kacau akhir-akhir ini karena meroketnya nilai tukar rupiah.

Saklar,, mana saklar? Biar kuhidupkan lampu saja, agar bayang burammu segera nyata.
Oh, aku lupa, bahkan listrikpun belum masuk ke desa kami.
Kupicingkan mata, berharap sosokmu tak segera menghilang sebelum kutemukan alat penerang.
Tunggu sebentar sayang, mungkin senterku masih bisa menyala.
Ku sorotkan cahaya senter yang mulai meredup ke arah mu yang masih berdiri di ujung jalan sana.
Masih saja buram, tubuhmu seakan hilang ditelan malam.

Aku terpaku, tanpa tahu harus bagaimana.
Terdiam sambil berharap bahwa ini hanya mimpi dan ketika terbangun nanti kau ada disampingku.
Tersenyum menatapku, sambil berkata: “kopi hitam telah kuseduh untukmu cinta...”
Ah,, sudah lah, tak ada gunanya berkhayal karena itu akan semakin menambah kecewa.
Kucoba menyadari bahwa kita berbeda.

Kembali ku dekati jendela, ku sibak tirainya agar tersingkap
Kenyataan yang kudapatkan, kau sedang dituntun menaiki sebuah mobil mewah dengan gaun merah maroon favorite mu.

Ku eratkan genggaman tanganku, menekan perasaan yang aku sendiri tak ingin ia hadir.
Tetapi, rasa itu semakin menyesakkan saat deru mobil melewati tempatku mengintip dan pergi menjauh dan semakin jauh.
Hembusan anginnya menambah tebal debu di jendela, ku sapu dengan tangan dan kutuliskan namamu disana.

Siapa tahu, suatu hari nanti kau akan kembali kesini.
Aku pun tak akan membersihkan apapun, dan tak akan kemanapun, karena tempat ini begitu banyak menyimpan jejakmu.
Aku akan tetap menunggumu disini, bersama segelas kopi yang kuseduh untukmu namun belum sempat kau cicipi.
Asapnya memberi aroma seperti kedatangan dan kepergianmu, ada manis dan pahit yang ditawarkan
Dan aku telah mencicipi keduanya.

Aku selalu ingat kata-katamu, “bukankah kesempurnaan kopi dari manis dan pahitnya?”
Previous
Next Post »

4 comments

Write comments
Ahmad Saleh
AUTHOR
August 31, 2015 at 8:54 AM delete

makin puitis aja belakangan ni? :p

Reply
avatar
August 31, 2015 at 9:43 PM delete

susah cari mood kalo nulis yang serius bang. kalo yang begini ini, mood nya keluar sendiri tanpa perlu dipaksa. hehehe

Reply
avatar