Cinta dan Pedang

Cinta dan Pedang
Kau mencintaiku dengan caramu
Tak pernah lelah menatap bersama dinginnya embun malam
Hingga airmatamu membeku tak akan mencair walau dengan kremasi sekalipun.
Tak pernah lelah berdo’a dalam sayup suara badai yang membuat lidahmu kelu dan membisu.
Meluruhkan asa bersama dedaunan kering yang Meranggas, layu dan kemudian jatuh dalam gerimis hujan.
Kau berlari, memungutnya kembali, membawakan dalam bentuk yang utuh setelah puzzle itu tertata ulang.

Kau mencintaiku dengan caramu
Merayu dalam dekap rindu para ksatria di tanah konstantinopel
Mencumbu dalam gulita sendu istana al-Hamra
Syahdu,,, hingga sang permaisuri pun terlelap tanpa suara

Kau mencintaiku dengan caramu
Mengalir..., dan terus saja menuju pantai karena tak mampu kuciptakan bendungan layaknya Srisailam Dam di India.
Kuminta angin memporak porandakan rasamu, namun kau tak juga berhenti bahkan masih saja bergeming seolah tembok cina telah bersedia menjadi tameng untuk melawan catherina yang ku kirim.
Kembali,,, ku berpesan pada belati, untuk sudi kiranya menghunus tajam ke ulu hatimu hingga keluarlah seluruh cairan cinta yang kau simpan di dalamnya. Dan lagi-lagi, tusukan itu bukan menyurutkan langkahmu, tetapi membuat dirimu semakin blingsatan seolah ribuan tentara mongol menghunus pedang pada pertempuran salib ke-3.

Kau dan cintamu seakan bersatu bersama alam layaknya paham pantheisme yang sesat dalam ajaran kita.
Kau dan cintamu bagaikan senandung ribuan malaikat yang membangunkanku dari istirahat karena lelahnya menghadapi kenyataan.
Kau dan cintamu...,, terus memburuku, menjebak, hingga aku terjerembab dan kemudian tertawan dalam paham yang masih tak mampu ku cerna.

Jika sekiranya tanganku sendiri yang menikam dadamu dengan pedang Shalahuddin al-Ayyubi, masihkah kau mencintaiku dengan caramu itu?
Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
Dyah Rina
AUTHOR
August 16, 2015 at 3:04 PM delete

Dalam nih. Diksinya manteb dan analoginya.....nggak sanggup saya bikin puisi ke gini....
Salam kenal Mbak....

Reply
avatar
August 16, 2015 at 4:57 PM delete

salam kenal kembali mbak Dyah. makasih buat pujiannya :)

Reply
avatar