Test Keperawanan; Pentingkah?

Pada dasarnya manusia bersifat egois. Ia ingin memiliki seseorang yang dicintainya atau pasangannya seutuhnya, tanpa cacat dan tanpa cela sedikitpun. Sementara itu, belum tentu ia mempersembahkan dirinya seutuhnya kepada pasangannya. Begitulah realita yang dialami hampir oleh 75% laki-laki. Mereka menuntut dan selalu mengharapkan wanita yang dinikahinya masih perawan, namun belum tentu mereka masih perjaka.

Keperawanan, begitu pula keperjakaan sebenarnya tidak bisa dilihat hanya dengan kasat mata, baik melalui cara berjalan seorang perempuan maupun dari bentuk tubuh lainnya. Menurut Dokter Boyke, seorang ginekolog dan konsultan sex, bahwa apapun tanda dan ciri yang beredar sekarang hanyalah mitos belaka. Nach, suatu hal yang rasa-rasanya hampir dipercayai oleh seluruh orang adalah “darah malam pertama” itu pun masih menurut dokter Boyke bahwa hanya dialami oleh 66% perempuan, sedangkan selebihnya tidak.

Seorang perempuan yang kehilangan keperawanan akibat “kecelakaan” sebelum menikah justru itu sebenarnya menunjukkan betapa primitivenya seseorang tersebut karena itu adalah perilaku jahiliyah yang jauh dari dunia modern. Seorang perempuan modern justru akan menjaga keperawanannya sampai mereka menikah, karena itulah ciri setelah masa jahiliyah.

Test keperawanan untuk seleksi penerimaan pekerjaan seperti institusi TNI dan Polri misalnya, menuai pro dan kontra dari berbagai pihak. Bagi yang pro menyatakan test ini harus dilakukan karena merupakan tolok ukur moral seseorang. Sementara, mereka yang kontra menilai keperawanan bukanlah ukuran kebaikan moral seseorang, justru itu sebuah ketidak adilan di tengah gaung gender yang hingar bingar saat ini. Pertanyaannya kemudian, apabila kesucian hanya menjadi ukuran baik atau tidaknya seorang perempuan, lalu apa yang dapat menjadi tolok ukur moral dalam lingkup kesucian bagi seorang laki-laki?

Masih menurut dokter Boyke, bahwa hilangnya keperawanan bukan hanya disebabkan oleh hubungan seksual, tetapi juga dapat terjadi karena kecelakaan (dalam arti sebenarnya), olahraga berat seperti berkuda, taekwondo dan lain yang sejenisnya, dan bisa juga diakibatkan karena keputihan yang menahun.

Selain dari pada penyebab yang disebutkan dokter Boyke diatas, apabila memang kehilangan keperawanan itu dikarenakan melakukan hubungan seksual, tidakkah mereka yang melakukan test itu terhadap perempuan memikirkan bahwa hal itu bisa saja terjadi karena paksaan seperti pemerkosaan, pelecehan seksual dan lain sebagainya. Menurut Kang Maman Suherman, apabila kita tidak ada di masa lalu mereka, tidak pantas kita mengakhiri masa depan mereka dengan menutup pintu pekerjaan bagi mereka.
Previous
Next Post »