Puasa: Tak hanya Milik Kita

Sebagaimana yang telah kita pahami bersama, puasa adalah menahan hawa nafsu, baik itu nafsu makan, minum dan segala nafsu lainnya mulai dari terbit fajar sampai dengan tenggelamnya matahari. 

Meskipun bagi sebagian orang puasa adalah pekerjaan yang sulit. Namun, Puasa bukanlah barang baru dalam sejarah dunia. Ummat Islam yang merupakan agama terakhir dari rangkaian agama samawi ini pun telah melaksanakan perintah puasa ini selama 1435 tahun karena perintah puasa ini turun pada tanggal 10 sya’ban tahun ke-2 hijriah (Sayyid Sabbiq: Fiqhus Sunnah, juz 1). Atau bertepatan dengan tahun 623 M. Nach apabila kita hitung dalam masehi, itu artinya perintah puasa ini diwajibkan kepada ummat Islam sudah 1392 tahun.

Perintah puasa yang telah dilaksanakan ummat Islam selama ribuan tahun itupun ternyata bukanlah yang pertama dalam sejarah dunia. Sebelumnya, perintah puasa ini juga telah Allah wajibkan kepada para ummat agama-agama samawi sebelum Islam. Hal ini jelas sekalai termaktub dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

Nach, jelas sekali didalam ayat tersebut disebutkan “sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu”. Pernyataan ini tentu saja mengandung sejarah yang panjang tentang perintah puasa. Bahkan perintah puasa ini merupakan salah satu dari 3 perintah tertua bagi manusia. Dua lainnya yaitu, shalat dan kurban.

Puasanya Nabi Adam dan Nabi Idris
Ada beberapa sumber yang menyebutkan tentang puasanya Nabi Adam as. Diantara sumber-sumber tersebut ada yang menyebutkan bahwa Nabi Adam as. Berpuasa setiap hari jum’at, dikarena beliau diciptakan Allah pada hari jum’at, diturunkan ke bumi pada hari jum’at dan wafatnya pun pada hari jum’at. Hal ini tertera dalam Hadits Rasulullah saw: “Sesungguhnya Allah menjadikan Adam pada hari Jumat, diturunkan di bumi pada hari Jumat, dia bertobat kepada Allah atas dosanya memakan buah khuldi pada hari Jumat dan wafat pun pada hari Jumat.'' (HR Bukhari)

Sejarawan Muslim, Ibnu Katsir mengisahkan tentang puasa tiga hari pada setiap bulannya yang dilakukan oleh Nabi Adam as sebagai bentuk terimakasihnya kepada Allah karena taubatnya diterima Allah. Puasa ini dikerjakan Nabi Adam setelah diturunkan ke bumi. Sampai saat ini pun kita masih sering mendengar atau bahkan mengerjakan puasa tiga hari setiap bulan, pada tanggal 13,14 dan 15 setiap bulannya sepanjang tahun.

Selanjutnya puasa Nabi Idris. Kebiasaan Nabi Idris as adalah berpuasa sepanjang masa. Konon, puasa ini dilarang untuk ummat Nabi Muhammad karena berbagai hal. Setelah berbuka puasa maka Nabi Idris akan beribadah sepanjang malam.

Puasa Nabi Nuh as dan Nabi Ibrahim as
Sama hal nya dengan Nabi Idris as, Nabi Nuh as pun berpuasa sepanjang tahun. Sebagaimana hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah yang artinya: “Dari Abdullah bin Amar dia berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. Bersabda: “Nabi Nuh berpuasa Dahr (Terus Menerus) kecuali pada I’edul Fithri dan I’edul Adha” (Kitab Shiyam Bab 32/Hadits No. 1714)

Nabi Ibrahim pun terkenal dengan kegemarannya berpuasa. Puasa dilakukan Nabi Ibrahim ketika hendak menerima wahyu yang dikumpulkan menjadi suhuf Ibrahim. Penulis tidak menemukan satu literature pun tentang bagaimana tata cara puasanya Nabi Ibrahim. Namun, dikatakan bahwa puasa Nabi Ibrahim ini diikuti oleh kedua putranya, Ismail dan Ishaq.

Puasa Nabi Luth, Ya’qub dan Yusuf
Dalam beberapa bacaan penulis temukan bahwa ketika kedua malaikat yang menjadi tamu Nabi Luth datang untuk menyampaikan kabar tentang akan dihancurkannya negeri Sodom oleh Allah, pada saat itu Nabi Luth mengajak kedua tamunya tersebut untuk berbuka puasa. Tetapi, tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang puasanya Nabi Luth ini.

Begitu pula halnya dengan Nabi ya’qub. Beliau selalu berpuasa untuk keselematan anak-anaknya. Terutama ketika tragedi yang menimpa Nabi Yusuf putra kesayangannya.

Sementara Nabi Yusuf berpuasa ketika berada dalam penjara bersama para terhukum lainnya. Kebiasaan berpuasa ini juga beliau terapkan ketika menjadi pembesar Mesir dan menjabat sebagai menteri perekonomian negeri tersebut. ''Karena aku khawatir apabila aku kenyang, nanti aku akan melupakan perut fakir miskin.'' Kata Yusuf as.

Puasa Nabi Daud, Yunus, Musa dan Isa 
Diantara semua puasa nabi-nabi terdahulu, yang paling populer bagi ummat Islam sekarang adalah puasanya Nabi Daud as. puasa yang dilakukan sepanjang tahun dengan sehari berbuka dan sehari berpuasa banyak dilakukan oleh muslim saat ini. Dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah saw bersabda: “Puasa yang paling disukai di sisi Allah adalah puasa Daud, dan shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur di pertengahan malam dan bangun pada sepertiga malam terakhir dan beliau tidur lagi pada seperenam  malam terakhir. Sedangkan beliau biasa berpuasa sehari dan buka sehari.” (HR. Bukhari no. 1131).

Di dalam hadits berikutnya Rasulullah bersabda: “Maka berpuasalah engkau sehari dan berbuka sehari, inilah (yang dinamakan) puasa Daud ‘alaihissalam dan ini adalah puasa yang paling afdhal. Lalu aku (Abdullah bin Amru radhialahu ‘anhu} berkata sesungguhnya aku mampu untuk puasa lebih dari itu, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tidak ada puasa yang lebih afdhal dari itu. ” (HR. Bukhari No. 1840).

Selain itu, Nabi Yunus juga berpuasa, yaitu ketika Nabi Yunus berada di dalam perut ikan, beliau berpuasa selama 40 hari sampai dimuntahkan kembali ke daratan oleh ikan atas perintah Allah. Pada saat itu, berbuka puasanya Nabi Yunus dengan bertasbih kepada Allah swt.

Nabi Musa dan Nabi Isa yang diagungkan oleh dua agama, Yahudi dan Nasrani juga berpuasa. 40 hari 40 malam lamanya puasa kedua Nabi ini. Nabi Musa berpuasa ketika akan menerima wahyu di bukit Tursina atau bukit Sinai. Sementara itu, Nabi Isa berpuasa selama itu ketika akan menampilkan dirinya di muka umum, untuk mengabarkan kerasulannya.

Allah memerintahkan juga Nabi Musa agar berpuasa 30 hari kemudian pergi kebukit Tursina dimana dia diberi kesempatan bermunajat sebelum menerima kitab sebagai penunjuk umatnya. Setelah selesai 30 hari berpuasa penuh, Nabi Musa merasa segan akan bermunajat dengan Allah dalam keadaan mulutnya berbau kurang enak akibat puasanya, maka ia mengosok giginya dengan mengunyah daun-daun dalam menghilangkan bau mulutnya. Ia ditegur olah malaikat; ``Hai Musa, mengapakah engkau harus mengosokkan gigimu untuk menghilangkan bau mulutmu sedang mulut orang-orang berpuasa bagi kami adalah lebih wangi dari kasturi? Maka akibat tindakanmu, Allah memerintah kepadamu agar berpuasa lagi lebih sepuluh hari sehingga lengkaplah masa puasamu 40 hari``.

Di dalam agama Yahudi, perihal puasanya Nabi Musa ini tercantum di dalam Kitab Perjanjian Lama (Keluaran 34: 29): "Musa berada di sana bersama-sama dengan Tuhan 40 hari 40 malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air dan ia menuliskan pada Loh itu segala perktaan perjanjian, yakni kesepuluh firman". Hal ini kemudian yang dikenal sebagai 10 Firman Tuhan.

Ada pula puasa yang dianjurkan pada Nabi Musa, yaitu berpantang tidak boleh melakukan sesuatu. Termaktub dalam Perjanjian Lama (keluaran: 34:14) bahwa Musa diharuskan memelihara Hari Raya Roti Tidak Beragi. Dengan ketentuan, selama 7 hari lamanya, Musa tidak boleh makan roti yang beragi. Hal itu ditetapkan dalam Bulan Abid, sebagai peringatan Musa dan kaumnya keluar dari Mesir atas kejaran Raja Fir'aun.

Jika kita meneliti kitab Perjanjian Lama, antara bahasa orang Yahudi, Aramaik, Arab dan Ethiopia ternyata menggunakan kata yang sama, yaitu Shaum (menahan nafsu). Kata ini berarti menghentikan aktivitas makan, minum, dan nafsu sekaligus menandai ungkapan penyesalan atas dosa yang diperbuatnya.

Selain itu, menurut riwayat orang-orang Yahudi terdahulu melaksanakan puasa setiap tanggal 10 Muharram sebagai Puasa Asyura sebagai tanda keberhasilan mereka lari dari kejaran Fir’aun dan tentaranya. Dikisahkan bahwa ketika pertama kali berhijrah ke Madinah, sebagai awal perhitungan tahun Hijriah dengan bulan muharram sebagai bulan pertamanya, Rasulullah saw mendapati kaum Yahudi Madinah berpuasa pada tanggal 10 muharram tersebut. Lalu, Rasulullah bertanya mengapa mereka berpuasa? Kaum Yahudi tersebut menjawab bahwa “Ini adalah hari ketika Allah memenangkan Nabi Musa dan Bani Israil atas Fir’aun (yaitu, ketika Fir’aun dan bala tentaranya ditenggelamkan) maka kami berpuasa untuk memperingati hari tersebut.” Lalu Rasulullah bersabda: “Kita lebih berhak kepada Nabi Musa daripada mereka”. Pada saat itu juga Rasulullah memerintahkan ummat Islam untuk berpuasa Asyura.

Oleh karena terjadi  penyimpangan ajaran-ajaran yang sudah tidak sesuai dengan Kitab Perjanjian Lama, akhirnya tradisi puasa yang dilakukan oleh orang Yahudi terdahulu sekarang ini sudah jauh berubah. Saat ini kaum Yahudi berpuasa wajib hanya pada hari Yom Kippur (hari penebusan atau pembersihan dosa), satu-satunya puasa yang diperintahkan dalam  hukum Taurat (Mosaic Law). Setelah menfokuskan 10 hari untuk tujuan bertaubat sejak Rosh Hashanah (Tahun Baru mengikut kalender Yahudi), diikuti dengan berpuasa pada hari Yom Kippur untuk memastikan taubat dan diampunkan dosa-dosa tahun sebelumnya kerana mengikut kepercayaan mereka pada hari Yom Kippur itulah nasib semua penganut Yahudi ditentukan untuk tahun berikutnya.

Selain Nabi Musa, puasa selama 40 hari juga diamalkan oleh Nabi Isa as bersama para pengikutnya yang disebut sebagai Hawariyyun. Puasa 40 harinya puasa Nabi Isa dan pengikutnya adalah meneruskan tradisi puasanya Nabi Musa. Tradisi puasa  inilah yang kemudian diteruskan dalam ajaran Kristen setiap kali merayakan hari raya Paskah sebelum akhirnya para teolog mereka memperkenalkan model puasa dengan tidak memakan daging, ikan, dan telur.

Jenis puasa yang dilakukan umat terdahulu bermacam-macam. Ada yang berpuasa meninggalkan makan, minum, tidak bersetubuh, atau cukup dengan tidak berkata-kata saja seperti puasanya Siti Maryam (aku tidak akan berkata-kata dengan seorang manusiapun pada hari ini, (QS Maryam [19]: 26). Seperti nazarnya Siti Maryam, suku Aborigin di Australia pun melakukan hal yang sama. Mereka mewajibkan puasa dari berkata-kata bagi seorang istri yang ditinggal mati suaminya selama satu tahun penuh.

Selain itu, puasa tidak hanya milik agama-agama samawi. Puasa juga dilaksanakan oleh bangsa Mesir kuno, Romawi, dan China Kuno. Di dalam Misteri Bulan Ramadhan karya Yusuf Burhanudin disebutkan, bangsa Phoenix di Mesir berpuasa untuk menghormati Dewi Isis. Sekitar 193 SM, bangsa Romawi kuno berpuasa selama setahun penuh dalam setiap lima tahun untuk menghormati Dewa Osiris, yakni dewa pelindung kematian sekaligus suami Dewi Isis. Bangsa Yunani mempelajari kelebihan puasa dari bangsa Mesir kuno. Puasa, dalam kamus militer Yunani kuno, dianggap sebagai persiapan awal menghadapi peperangan. Sedangkan, dalam ajaran Cina kuno, puasa termasuk salah satu ajaran Buddha dalam rangka menyucikan diri. Sementara itu, dalam ajaran Hindu juga dikenal adanya puasa, salah satu diantaranya adalah puasa pada hari Nyepi dengan tidak makan dan minum apapun dimulai ketika fajar hari itu sampai fajar keesokan harinya.

Puasa diyakini oleh hampir seluruh agama dari berbagai bangsa di dunia merupakan bentuk pencapaian keagungan spiritual dalam diri seseorang. Puasa merupakn totalitas ibadah seorang hamba terhadap Tuhannya. Dalam sebuah Hadit Qudsi dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, "Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuk dirinya sendiri kecuali puasa. Puasa untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya."
Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments
Ahmad Saleh
AUTHOR
June 18, 2015 at 6:10 AM delete

hmm,, sangat menarik.. trims

Reply
avatar