MDIR: Bahaya Nonton Film Korea (Rumput tetangga lebih hijau)

Ramadhan 4:

Selama ini kenyataan yang tak terbantahkan adalah kita (bangsa Indonesia) dengan 250 juta penduduknya, sebagian besarnya hanya menjadi konsumen, terutama konsumen dari produk-produk luar.

Dalam industri musik, Demam K-pop, bollywood dan lain sebagainya bukanlah barang baru di negara yang memiliki beragam budaya lokal yang tak terhitung jari. Munculnya girl/boy band yang mengusung budaya luar menjadi idola baru. Mereka laku seperti pisang goreng dengan kopi hangat di hujan deras.

Industri perfilman pun kita masih berkiblat ke sana. Akibatnya, sebelum sempat kita siuman dari tidur panjang, kita sudah kembali tertidur, dihipnotis oleh pesona negeri gingseng. Remaja kita saat ini terjangkiti demam korea. Semakin tergeruslah budaya lokal. Jika sudah seperti ini apa yang masih kita banggakan?

Dahulu, presiden pertama Indonesia Soekarno dengan sesumbar menyatakan “berikan aku 10 pemuda maka akan ku goncang Dunia”. Apa hari ini pemuda kita masih sama membanggakannya seperti dahulu?

Globalisasi yang membawa arus modernisasi membuat dunia seakan dalam genggaman memang tidak bisa kita hentikan. Pengaruh positif pun banyak kita dapat karena kedua hal itu, terutama dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, secara sadar sebenarnya adalah bagaimana kita bisa memfilter pengaruh masuknya budaya asing ini. sah – sah saja kita belajar budaya negara lain untuk menambah wawasan dan pemahaman, namun sayangnya, justru akhirnya hal itu menjadikan kita minder dengan budaya negeri sendiri.

Diadopsinya budaya asing ini oleh sebahagian remaja saat ini, yang paling parahnya juga berpengaruh dalam unsur keagamaan seseorang. Pedangkalan akidah terjadi. Shalat yang wajib menjadi lupa hanya karena ada jadwal film Korea. al-Qur'an terabaikan dengan keindahan musik India. Siapa yang bertanggung jawab bila telah seperti ini?

Rumput tetangga selalu lebih hijau sepertinya menjadi sebuah pepatah atau perumpamaan yang sangat pas untuk menggambarkan kondisi dimana kita selalu berpatokan ke dunia luar. Sekali-kali coba lah melihat ke dalam, ke diri sendiri, ke lingkungan kita sendiri. Begitu banyak hal yang membuat dunia luar justru berdecak kagum terhadap kita. Namun, di saat yang sama kita sibuk membandingkan diri dengan segala yang orang lain punya. 

Fabiayyi alla i rabbi kuma tukadzibaan....





Previous
Next Post »